pena kehidupan | setiap goresan penuh arti

anak “alarm” hidupku

di nyanyiin kok ngga’ keluar

apa yg bisa kulakukan

menua dengan anggun & bijak

anak-anak curhat

In Time

Nov/13

19

terpasang, terlihat tapi tak bermakna

Apakah dengan tingginya pendidikan seseorang berarti otomatis akan serta merta mematuhi rambu-rambu lalulintas?

Entah darimanakah harus memulai, dikala ribuan alasan membuat rambu-rambu lalu lintas seolah seperti baliho-baliho caleg, terpasang, terlihat tapi tak bermakna.

pasti ada alasan kenapa orang parkir dibawah rambu “P coret”, pasti ada alasan orang menerobos jalur satu arah padahal ada rambu “lingkaran merah – putih”, pasti ada alasan kenapa tetap belok kanan padahal ada rambu “kotak biru dg panah arah kiri”.

Apakah mereka ini membeli sim (dapat sim tanpa ujian atau tidak lulus ujian tetapi tertulis lulus) ? apa iya seperti itu

Apakah mereka tidak bisa membaca rambu-rambu? setidaknya mereka terbiasa dengan “google”

Apakah mereka tidak pernah TK ? di TK ada pelajaran rambu-rambu

Apakah mereka bukan warga UB? yang pasti kejadian ini terjadi di kampus tercinta ini.

 

Semoga ini hanya kejadian sesaat karena ada kepentingan yang sangat mendesak dan tidak selamanya, sehingga rambu lalu lintas bukan lagi seperti baliho caleg TERPASANG, TERLIHAT TAPI TAK BERMAKNA.

 

No tags

Nov/13

14

Pembawa Pesan

Fauzi Rachmanto

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA

Banyak orang yang mendambakan untuk dipimpin oleh pemimpin yang berpengetahuan tinggi. Sebagian orang mungkin lebih menginginkan pemimpin yang bermoral. Dan, ada juga orang yang senang jika bisa memiliki pemimpin yang memiliki fisik yang baik. Namun segala kelebihan tadi akan menjadi sia-sia, apabila sang pemimpin tidak dapat menyampaikan pesan yang jelas kepada yang dipimpin.

Tahun-tahun menjelang 1939 adalah masa yang sulit bagi Kerajaan Inggris Raya. Kemungkinan perang melawan Jerman sudah di depan mata. Dan pada saat krisis seperti itu, rakyat Inggris memerlukan figur kepemimpinan yang dapat membangkitkan optimisme mereka.

Pada tahun 1936, Raja George V yang dikenal piawai berpidato  mangkat, dan Tahta harus beralih ke Raja George VI. Ketegangan dengan Jerman semakin memuncak pada masa kepemimpinan Raja George VI, dan membawa kepada langkah yang tidak terelakan: Menyatakan perang.

Adalah tugas Raja George VI untuk mengumumkan pernyataan perang. Pada masa itu, pernyataan perang dilakukan melalui Radio, dan hanya bisa dilaksanakan secara langsung. Persoalannya adalah: sang Raja menderita kesulitan berpidato di Radio, karena gagap.

Bayangkan kesan seperti apa yang akan diterima oleh pihak Jerman, dan oleh Rakyat Inggris, jika mendengar Raja menyatakan perang dengan gagap. Dengan pantang menyerah Raja George VI berlatih khusus untuk melawan kegagapannya. Sebuah pidato pernyataan perang yang lancar dan sangat bertenaga pun berhasil disampaikan “Live” pada bulan September 2013.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Mungkin sebagai pemimpin saat ini kita sudah merasa memiliki kemampuan, pengalaman, maupun pengetahuan yang lebih dari cukup? Atau merasa sudah menjadi pemimpin yang bisa menjadi panutan secara moral. Kesemuanya tadi akan percuma, manakala Anda tidak mampu menyampaikan pesan dengan jernih kepada “rakyat” Anda.

Di dalam perusahaan yang kita kelola, kita menjadi Pembawa Pesan. Nilai-nilai, visi, strategi, langkah taktis perusahaan, adalah berbagai pesan yang harus kita sampaikan sebagai pemimpin, secara terus menerus.

Berbeda dengan jaman Raja George VI yang hanya bisa menggunakan radio, kita beruntung bisa membawakan pesan dengan lebih banyak cara. Namun, bisa jadi kita masing-masing sebenarnya punya titik lemah, titik “gagap” kita sendiri dalam menyampaikan pesan. Apapun bentuknya.

Kejujuran dalam mengakui “titik gagap”, menyadari kekurangan dalam menyampaikan pesan. Justru akan menjadi titik awal yang baik untuk memperbaiki kemampuan kita sebagai Pemimpin. Pemimpin yang sadar perannya adalah menjadi Pembawa Pesan.

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA
@fauzirachmanto
sumber: http://tangandiatas.com/2013/11/14/pembawa-pesan/

No tags

Nov/13

11

ayah gunakan bahasa

Setiap pagi menjadi tugas rutin tidak tertulis memandikan anak saat bundanya sibuk menyiapkan sarapan.

Dan pagi itu setelah mandi dan menggantikan baju,

Ayah: “Rani kalau sudah dibantu bilang apa?”

Rani: “eh iya lupa, thank you yah”, jawab rani sambil tepok jidadnya lalu meninggalkan ayahnya

Ayah: “oke”

Rani: “ayah kok jawabannya oke”, kembali menghampiri ayahnya

Ayah: “Sama-sama Rani”, sambil tersenyum geli suka menggoda putrinya

Rani: “Ayah ayo gunakan bahasa yang sesuai, kalau aku bilang terimakasih, ayah jawab sama-sama, kalau maturnuwun, jawabnya sami-sami, tadi aku khan bilang thank you jawabannya ya you are welcome,” sambil mencucu meninggalkan ayahnya “gimana sih”

terdengar suara ketawa geli dari bundanya

ayah: “iya cantik terimakasih diingatkan”

Rani: “sama-sama, nah gitu”

he he he he… kejadian setiap pagi, ada-ada saja… he he he….

 

No tags

Nov/13

4

ngantuk dikantor ?

Desktop yoga menjadi alternatif melawan ngantuk dikantor, silahkan rasakan manfaatnya

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=Ix-6DsyWrDU[/youtube]

sumber : http://www.youtube.com/watch?v=Ix-6DsyWrDU

No tags

Oct/13

31

Bedanya Ibu dan Aku

Tulisan ini membuat saya teringat kembali, bahwa kondisi saat ini masih jauh dari membahagiakan dan berbakti pada IBU, tulisan ini diambil dari salah satu tulisan sang Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini, yang menginspirasi ribuan bahkan jutaan orang untuk instropeksi diri mengejar hidup SUKSES sekaligus MULIA.

———-

Tadi malam saya berdiskusi dengan istri tentang bagaimana melahirkan trainer-trainer yang berkarakter. Salah satu yang harus dilakukan adalah support pasangan hidup dan keluarganya. Para trainer tak boleh hanya memikat di atas panggung tetapi mendapat penilaian yang rendah tentang perilaku dan karakternya dari orang terdekatnya.

Usai diskusi, pikiranku melayang ke wajah di balik ketegaran bapakku menghadapi berbagai ujian, hinaan dan kepahitan hidup. Wajah yang kini mulai renta itu adalah wajah ibuku. Wanita ini tak lulus dari Sekolah Rakyat atau setara SD. Tetapi bagi saya, ia adalah guru besar kehidupan yang sulit dicari tandingannya –Kerinduanku akhirnya kutuangkan dalam kulwit #RinduIbu di akun twiterku tadi malam.

Ibuku luar biasa, dia sangat berbeda denganku. Setiap jumpa dan kemudian berpisah dengannya ibuku selalu berkata, “Maaf, ibu tidak bisa memberi apa-apa kecuali doa.”

Ucapan itu terkadang menamparku. Ibuku yang sudah begitu banyak memberi pengorbanan, perhatian dan rasa cinta yang tiada tara masih berkata “maaf ibu tidak bisa memberi apa-apa”. Sementara aku, hanya cium tangan, memberi rupiah yang tak lebih dari 10 persen penghasilanku sudah merasa menjadi anak yang berbakti.

Ibuku tak merasa banyak berbuat kepadaku padahal kebaikan kepadaku amat sulit untuk dihitung. Sementara aku sudah merasa menjadi anak yang taat dan hebat hanya dengan sekelumit kebaikanku. Oh, betapa mulianya ibuku dan betapa naifnya diriku…

Bila aku sakit, ibuku rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dan menyeberangi lautan hanya seledar ingin menciumku. Sementara bila ibuku sakit, aku hanya mengangkat telepon untuk berkata, “Maaf, aku tak bisa menemani ibu.”

Oh, betapa bedanya aku dengan ibuku. Ia segera meninggalkan semua kesibukannya hanya untuk jumpa dengan anaknya. Sementara aku selalu beralasan sibuk untuk bisa menemaninya saat ia berbaring lemah karena sakitnya.

Saat aku sekolah dan kuliah, ibuku rela datang meminjam hutang walau mungkin mendapat cacian dari yang punya uang. Tetapi kini aku tega-teganya berkata, “Maaf ibu, belum bisa banyak membantu, aku masih harus mengembangkan bisnis dan keluargaku.” Saat seperti itu ibuku hanya berkata, “Ibu bahagia bila melihat kamu dan keluargamu bahagia. Ibu tak minta apa-apa darimu kecuali doa usai sholatmu.” Oh ibu, aku semakin malu…

Sebelum tidur aku menangis, betapa baktiku kepada ibuku belum seberapa. Dalam pelukan istriku, kukirimkan doa untuk ibuku, “Ya Allah jaga ibuku. Muliakan ibuku. Beri ia tempat terhormat di dunia dan berikan ia mahkota terindah di surga-Mu kelak.” Ah, betapa hinanya aku, karena hanya bisa menangis dan mengirimkan doa di usiaku yang semakin tua…

Itu bedaku dengan ibuku. Apa bedamu dengan ibumu?

Salam SuksesMulia!

 

No tags

Oct/13

30

sungkan berubah wujud

Saat “rasa sungkan” dalam organisasi berubah wujud menjadi “penilaian buruk”, saat itulah awal perpecahan dalam organisasi. Perasaan “sungkan” yang dipendam ketika melihat & mendengar ketidak baikan memunculkan beribu alasan untuk menutup mulut, tetapi tidak dengan pikiran dan hati.

Ketika Budi menerima curhat temannya yang sebenarnya setiap hari ketemu, terjadi perbincangan.

Toto: “Bud, aku sekarang males dikantor”.

Budi: “kenapa ?”

Toto: “bagaimana tidak males, kemaren-kemaren aku diminta mengkonsep kegiatan untuk peningkatan kualitas SDM, eh sudah tak serahkan ke bos tidak ada respon !!!”

Budi: “Bos sudah tahu hasilnya dan sudah diserahkan ke beliaunya ?”

Toto: “Wah ya sudah, malah ini yang kali ke-3 berkasnya diminta, ini ngga sekali ini aja kejadiannya, pernah aku diminta membuat konsep evaluasi SDM, sama aja ngga ada respon, aku jadi males mikir pengembangan di kantor !!!”

Budi: “Santai bro, tapi hasil kerjamu direspon bos khan, buktinya kamu dapat tambahan insentif, sudah kamu tanyakan ke bos?”

Toto: “Bud, please jgn membahas insentif denganku, tanpa itupun aku kerjakan kok, tapi kasih respon donk, aku lebih butuh respon bukan uang, apa katamu tadi ‘sudah ditanyakan ke bos?’ wah males Bud, khan kamu tahu sendiri bos kl diingatkan seperti apa. ”

Selang beberapa bulan, Budi dipanggil bosnya

Bos: “Bud, aku minta tolong buatkan konsep penerimaan SDM”

Budi: “Maaf bos, bukannya selama ini SDM tugasnya Toto, walaupun saya tahu tapi Toto lebih jago, dan selama ini bos ordernya ke Toto”

Bos: “Toto sekarang berubah Bud, sekarang datang kantor selalu telat dan sebelum makan siang sudah pergi lagi”

Budi: “Bukannya Toto sudah ijin beberapa minggu ini ?” berbicara dengan dirinya sendiri.

Bos: “Sudah kerjakan apa yang saya perintahkan, tidak usah menunggu Toto !!!”

 

Jika kondisi ini berada dalam organisasi anda, maka siap-siap tunggu  BOM amarah meletus di organisasi anda.

No tags

Jun/13

18

kok harus terimakasih ?

Dalam menyampaikan instruksi atau permintaan bantuan ke anak kayaknya harus detil hingga dengan beberapa alternatif menggunakan kata “jika” seperti dalam bahasa pemprograman menggunakan “IF THEN dan ELSE”, karena jika tidak demikian akan kejadian seperti yang pernah istri saya alami dengan anak saya Rani (4th), sepulang mengantar oleh-oleh ke tetangga, tetangga itu sebelumnya merias Rani untuk pentas disekolahnya.

Bunda : “tadi sudah bilang terimakasih ?”

Rani : “kok harus terimakasih ?, khan Rani yang ngasih oleh-oleh.”

Bunda : “ya harus dong sayang, khan Bu Sugeng yang merias Rani.”

Rani : “lho tadi yang menerima oleh-oleh khan bukan Bu Sugeng.”

Bunda : “?!#$~”

 

No tags

May/13

31

In Time

intime1

Saat hidup benar-benar ditentukan oleh waktu, maka waktu 1 detik pun sangat berharga. terlepas film ini dibuat oleh orang beragama atau tidak yang pasti film “In Time” beredar tahun 2011 disutradarai “Andrew Niccol” menterjemahkan dengan gamblang “Time is Money”.

Dalam film ini manusia tidak akan tua walau usia lebih dari 25 tahun, uang bukan lagi segalanya tapi waktu mengambil alih menjadi segalanya, dimana orang bekerja akan dibayar dengan “waktu”, membeli minuman, naik transportasi, menginap dihotel membayar dengan waktu (mengurangi sisa hidup).

perbedaan orang kaya dan miskin dilihat dari “waktu” sisa hidupnya, setiap orang mempunya jam digital menghitung mundur di tangan kirinya menandakan berapa lama sisa hidupnya. jadi semua orang akan tahu sisa hidupnya.

intime2

orang akan mati ketika tidak ada lagi waktu yang dihitung mundur

intime3

dalam film ini sedekah bukan lagi berupa uang melainkan sedekah waktu, bagaimana orang rela mengurangi waktu hidupnya guna memperpanjang waktu hidup orang lain.

film ini sangat menginspirasi bagaimana berharganya waktu.

No tags

Jun/12

12

SILAHKAN merokok di ruang kerja

SILAHKAN merokok di ruang kerja anda jika

- ruang kerja anda di ruang terbuka dengan radius 5M tidak ada orang lain
- anda tidak melayani orang lain
- institusi ini punya anda
- punya dana untuk membayar asuransi paru-paru teman seruangan
- rokok anda tidak mengeluarkan asap
- semua asapnya anda hirup sendiri
- asap rokok anda tidak jauh dari anda melebihi 1cm

 

 

ada yang mau menambah ???

No tags

Jun/12

11

KEWAJIBAN institusi memenuhinya

benar-benar tragis ketika ada staf yang berkomentar “ini ruang kerja apa terminal ya…asap rokok ada dimana-mana

Saya yakin ini bukan pertama kali dirasakan oleh karyawan/karyawati yang berada satu ruang kerja dengan para perokok.

Para perokok ini pasti punya 1000 alasan untuk bertahan merokok diruang kerja, tapi mereka tidak punya 1 alasan untuk menghargai hak orang lain.

saran saya pada karyawan/karyawati yang berada satu ruang dihiasi asap rokok, ajukanlah asuransi paru-paru pada institusi.

dan

 ruang kerja bebas asap rokok itu HAK dan KEWAJIBAN institusi memenuhinya.

No tags

Older posts >>

Theme Design by devolux.nh2.me